PERS WAJIB CEK KEBENARAN INFORMASI MEDSOS

oleh -21 views

PALANGKA RAYA Media sosial yang dilansir di media mainstream saat ini wajib melakukan pengecekan berbagai informasi mengingat banyak informasi di media tersebut lemah dilihat dari faktualitas.

Kini ada sekitar 60 persen berita-berita yang dilansir media massa mainstream saat ini bersumber dari informasi yang diunggah publik melalui media sosial,” kata etua Bidang Pendidikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Nurjaman saat memberikan paparan pada workshop media siber di Palangka Raya, Sabtu (15/6).“Dari hasil riset ini, kita mendorong rekan-rekan pers agar melakukan cek dan ricek terhadap informasi di media sosial sebelum mengolahnya sebagai berita, katanya di depan puluhan wartawan Kalimantan Tengah (Kalteng) itu.Dalam pelatihan yang diikuti wartawan berbagai media massa, perwakilan kehumasan pemerintah media dan kepolisian, Nurjaman menyebut, banyak perkara hukum yang muncul dari pemberitaan media massa mainstream karena melansir informasi yang ada di media sosial.Akibatnya, si wartawan maupun awak redaksi media yang bersangkutan mendapat tuntutan hukum dari pihak-pihak yang merasa dirugikan akibat pemberitaan tersebut, termasuk dengan tuduhan pelanggaran UU Infprmasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Nurjaman yang pernah mengabdikan diri di SCTV, TVOne, Liputan6.com dan sejumlah media itu berharap perkara hukum demikian dapat diminimalisir. Caranya dimulai dari wartawan, yakni selektif dalam mengolah informasi yang bersumber dari media sosial, melakukan cek dan ricek serta mengkonfirmasi sumber-sumber terkait infomasi tersebut.
Selain mengingatkan rambu-rambu pemberitaan pers secara umum, Nurjaman juga berbagi pengalaman dan wawasannya terkait seluk beluk dunia media siber. Ini terbagi dalam tiga sesi penyampaian itu antara lain, model baru bisnis media massa, trik membesarkan kota, dan aturan pers media siber.Pelatihan sehari tentang media siber ini dibuka resmi Ketua PWI Kalteng H Sutransyah. Dia mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja kepengurusan PWI Kalteng periode 2014-2019, melalui bidang pendidikan.Worskhop tersebut diharapkan menjadi pembekal insan pers lokal, khususnya wartawan media online tentang tata laksana, teknik penulisan, dan aturan hukum media siber. Sutransyah mengatakan, paradigma media massa telah beralih dari konvensional ke online, diikuti SDM wartawan sebagai pelakunya. Sayangnya, peralihan wartawan ini tak dibekali pemahaman yang mumpuni sebelum terjun ke media siber. “Pelatihan ini merupakan upaya menjawab permasalahan kemajuan dunia jurnalistik, sekaligus untuk meningkatkan profesionalitas pers secara umum, terutama menghindari penyebaran berita Hoaks yang merugikan kita bersama, ujar Sutransyah. (SKY/SAR).

BACA JUGA :  DAYAK PERKUAT INFRASTRUKTUR AGAMA KAHARINGAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *