Jum. Okt 23rd, 2020

kbirayanews.com

Menyajikan Informasi Bernilai Edukasi

Indonesia Makmur Tanpa Korupsi

Oleh : Saidulkarnain Ishak

Indonesia kaya dengan berbagai sumber daya alam melimpah di seluruh nusantara. Tidak sedikit rahmat diberikan Sang Pencipta kepada bangsa di negeri ini, namun sulit mencapai kemajuan manakala koruptor masih beraksi. Korupsi harus dicegah jika bangsa negeri ini ingin maju tak bertepi. Kemakmuran akan merapat cepat dengan komitmen bersama diiringi niat suci untuk mewujudkan kemakmuran yang hakiki jika korupsi tidak lagi “menetap” di negeri ini. Indonesia akan makmur maju tanpa korupsi.

Korupsi sudah lama terjadi di negeri ini. Sudah menjadi “penyakit” masyarakat yang terkesan sulit dibasmi. Penyakit ini sudah ada di masa pemerintahan orde baru. Tidak ada inisiasi untuk mengobati di masa prareformasi, dan bahkan terkesan dilindungi. Banyak pemerhati yang tulus menyampaikan solusi, namun tidak mendapat perhatian serius dari penguasa saat itu sehingga tidak keliru bila dikatakan bahwa korupsi “penyakit” masyarakat yang ditinggalkan pemerintah sebelum negeri ini reformasi. 

Penyakit itu tidak sulit “disembuhkan” bila semua elemen masyarakat sepakat dan serius mengobatinya. Penyakit tersebut tidak lagi berdiam di negeri apabila anak bangsa negeri ini sepakat mengobatinya. Dukungan melawan korupsi bukan hanya teori seperti yang selama ini, tapi tindak krearif produktif itu yang utama seperti menempatkan orang berkualitas di suatu jabatan tertentu dengan tetap komitmen ikut mengobati penyakit tersebut. Di sini, kuncinya kesadaran berdasarkan nurani untuk memotivasi perangi korupsi. 

Kesadaran merupakan langkah strategis dan kunci mencegah korupsi. Kesadaran secara religi yang akan menangkal niat seseorang melakukan perbuatan melawan hukum agama dan hukum negara. Dengan ajaran agama manusia mengetahui mana yang baik dan buruk sesuai tingkat keimanannya. Kesadaran ini akan menambah motivasi korupsi dan sekakigus medorong bagi masyarakat mengikuti. Penyakit ini dapat diobati bila kesadaran religi tak bertepi dalam diri bangsa ini. Manusia yang mengamalkan ajaran agama secara baik dan benar, diyakini dapat menjauhkan diri dari perbuatan tercela. 

Memang belum banyak anggota masyarakat yang diberi kepercayaan melaksanakan tugas dengan kesadaran bahwa perbuatan menyimpang tidak harus diikuti. Kesadaran bahwa “mumpung” ada kesempatan, kapan lagi. Itu yang tumbuh berkembang dan kita lihat saat ini. Ajaran agama belum menjadi pedoman dalam kehidupannya, termasuk mencegah korupsi. Namun diyakini masih banyak yang mampu mengendalikan diri tanpa korupsi. 

Begitu pun, terkadang masih ada orang yang berkeinginan hidup berlebihan di era kemajuan saat ini sehingga terlibat kolusi korupsi. Era digitalisasi yang serba cepat menjadi salah satu sisi lain pendorong terjadi berbagai tindak tidak terpuji, termasuk korupsi, dan ini sering tidak disadari. Manusia tergiur dengan kehidupan dunia, berkeinginan memiliki sesuatu yang sejatinya tidak harus ada atau belum waktunya dipenuhi. Itulah sifat manusia yang terkadang lupa eksistensinya. Manusia seperti ini perlu “disuntik” untuk mengembalikan kesadaran pada eksistensi sehingga sikap jujur yang sudah hilang ditelan bumi tumbuh bersemi kembali. Masih ada solusi lain yang bisa dilakukan untuk menyadarkan semua anak bangsa bahwa korupsi hukumnya haram yang mengakibatkan negara rugi. Kesadaran diperlukan dalam segala aspek kehidupan bila kemajuan ingin dicapai. Kemajuan berkaitan erat dengan sikap jujur pada orang yang diberi amanah sebagai penyelenggara negara. Negara akan maju secara nyata bila pelaku korupsi tak berdiam di negeri ini. 

BACA JUGA :  Rakyat Menanti “Kreasi” Presiden Jokowi (Bagian 1)

Lembaga resmi, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah ada, namun tugas itu mustahil dapat membawa hasil maksimal tanpa dukungan masyarakat. Penyakit ini sulit diberantas tuntas bila kesadaran melawan korupsi belum tumbuh dari sanubari bangsa itu sendiri. KPK yang didirikan atas kesepakatan bangsa itu sudah melaksanakan tugas dan kewajibannya sesuai tugas pokok dan fungsinya yang dilandasi Undang-Undang resmi. Banyak hasil yang dicapai terkait pemberantasan korupsi meski tenaga terbatas menjangkau seluruh negeri. 

Sosiallisasi kejujuran

Pada awalnya, lembaga ini sudah memulai kegiatannya dengan aksi nyata seperti membuka “warung kejujuran” di sekolah dan menyosialisasi risiko hukum bagi pelaku tindak pidana korupsi, baik hukum negara maupun hukum agama. Namun belum berjalan maksimal, dan bahkan ada yang “berhenti (?)” seperti warung kejujuran yang kini nyaris tak terdengar lagi di tengah derasnya arus informasi. Sejatinya warung kejujuran diperbanyak karena itu sisi lain dari edukasi generasi penerus estafet pembangunan. Edukasi melalui warung kejujuran dinilai efekif karena di dalamnya ada pendidikan berdasarkan hati nurani. 

Tidak menutup kemungkinan KPK mengadakan kegiatan yang mengarah pada upaya melahirkan generasi jujur di kalangan masyarakat Indonesia. Bisa jadi semacam warung kejujuran yang pernah ada, yang dinilai dapat membawa dampak positif dalam kehidupan generasi jujur penerus pembangunan masa mendatang. Bisa jadi juga KPK mengadakan safari ke lembaga pendidikan agama seperti pesantren sambil berdiskusi mencari solusi bagaimana sifat jujur bersemi di sanuri santri. Perbanyak kegiatannya bila inti diskusi bisa dijadikan acuan yang diprediksi sikap jujur akan melekat di hati generasi dan masyarakat Indonesia secara keseluruhan. 

Bahwa hukum harus ditegakkan sudah diwujudkan KPK setelah lembaga ini diberi kewenangan sesuai Undang-Undang. Penyidikan dan penyelidikan kasus korupsi yang dilakukan KPK sudah terlihat berapa banyak pejabat pemerintah dan swasta yang menjadi narapidana. Data tahun 2017 tercatat 3.801 napi tipikor (detiknews) dengan jumlah uang negara yang berhasil diselamatkan tahun 2019 sebanyak Rp28,5 triliyun (deriknews). Begitu pun, kesadaran anak bangsa masih terkesan belum merata, terutama dari pemangku kepentingan yang terlihat dari hasil kinerja KPK dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT). 

Upaya menumbuhkan kesadaran tanpa korupsi dalam melaksanakan amanah yang dipercaya negara memerlukan pemikiran dan aksi nyata dengan melibatkan semua elemen masyarakat. Kesadaran pejabat pemerintah dan swasta yang ditugaskan untuk melayani masyarakat terasa belum maksimal adanya. Masih diperlukan sosialisasi sinergi untuk mempercepat tumbuhnya kesadaran di kalangan mereka yang diberi amanah melayani masyarakat. Kesadaran berpikir cerdas bahwa perbuatan melawan hukum akan merugikan diri sendiri, negara dan masyarakat seharusnya selalu di hati karena itu membuka jalan kemakmuran tanpa korupsi. 

BACA JUGA :  15 Tahun Tsunami Aceh (Bagian 1)

Kesadaran berdasarkan religi masih dalam mimpi sehingga tindakan penyalahgunaan kewenangan terlihat sering terjadi. Dana alokasi bantuan dana desa yang pada tahun anggaran 2020 akan dikucurkan pemerintah senilai Rp856,9 triliyun (tempo.co) dan dana bantuan operasional sekolah Rp54,31 triliyun riskan korupsi. Pengawasan ketat perlu dilakukan rakyat anti korupsi diikuti edukasi sinergi di seluruh negeri, sehingga tindakan tak terpuji akan sirna tak bertepi. Memang perlu kebersamaan melawan korupsi bagi kemakmuran negara 17 ribu lebih pulau ini. Semua elemen masyarakat harus peduli untuk memberantas korupsi. 

Oleh karena itu, pengawasan, sosialisasi dan edukasi untuk meningkatkan kesadaran kepada semua pengelola dana bantuan perlu dilakukan dan tidak harus berhenti sebelum penggunaan dana bantuan tersebut keliru dimanfaatkan. Harus dipahami bahwa alokasi dana bantuan desa dengan jumlah besar bisa membuat perangkat desa kaget dan multitafsir penggunaannya karena belum pernah ada dana sebanyak itu beredar di desa. Kepala desa bersama perangkatnya belum mendalami prosedur pengelolaan anggaran dalam jumlah besar, sehingga tanpa disadari bantuan yang seharusnya untuk pembangunan disalahgunakan. 

Kesadaran menyelamatkan pemangku kepentingan dan uang negara diperlukan lewat tindakan hukum yang lebih tegas dan tuntas. Edukasi dan sosialisasi perlu terus menerus dilakukan, termasuk pemikiran anti korupsi dalam bentuk tulisan di media. Edukasi di semua lini kehidupan untuk mempercepat tumbuhnya kesadaran pengelola dana negara tidak hanya siremoni tanpa bekas yang mengubah perkembangan ekonomi negeri ini. Masyarakat secara keseluruhan, terutama warga yang mendapat kepercayaan harus menyadari bahwa amanah dilaksanakan secara jujur sesuai peraturan yang berlaku di negeri ini. 

Pencegahan dini

Sejatinya, semua makhluk Tuhan yang disempurnakan dengan akal pikiran itu menyadari bahwa apa pun tindakan menyimpang dalam kehidupan tidak luput dari pengawasan malaikat utusan Sang Pencipta. Sekecil apa pun kesalahan yang dilakukan dalam kehidupan di dunia ini harus dipertanggungjawabkan pada saatnya nanti. Tidak ada perbuatan baik dan buruk yang luput dari catatan malaikat utusan Tuhan. Kesadaran bahwa ada yang mencatat selain petugas negara itu belum merata tumbuh di kalangan masyarakat, dan ini yang perlu diberi sosialisasi dan edukasi sehingga mereka benci pada perbuatannya sendiri. 

Kesadaran merupakan langkah preventif positif. Ini dapat dilakukan di semua lini kehidupan melalui tindakan nyata seperti berkata jujur, berbuat jujur, dan jujur dalam melaksanakan semua tugas sebagai orang yang dipercayakan mengelola dana negara di negeri ini. Pencegahan korupsi dimulai dengan niat dan sikap jujur dalam tindakan yang berawal dari hati nurani tak jauh dari pandangan, dan pendengaran. Bisikan hati merupakan kunci religi yang mendampingi gerakan motivasi anti korupsi. Kalau hati dan panca indera sudah seirama, jujur akan mendekati kebaikan yang dilakukwlan anak bangsa. Kebaikan akan menjadi teladan bagi setiap orang di sekelilingnya jika sifat jujur dikedepankan. 

BACA JUGA :  Rakyat Menanti "Kreasi" Presiden Jokowi (Bagian 2)

Ada yang berpikir bahwa kejujuran kini hanya terdapat pada anak balita karena dia belum tahu berbohong. Kalau ditanya pada mereka apakah “sudah makan”, dia akan menjawab “Sudah”. “Lauknya apa”, “telur atau ikan asin”, jawabnya. Semua balita masih polos, apa adanya dan dia akan tetap jujur sampai dewasa. Kecuali jika secara tidak sengaja diajari berbohong di lingkungan keluarga semisal “kalau ada yang tanya ibu nanti bilang tidak ada, sementara ibunya ada di rumah”. Ajaran tanpa sengaja ini akan melekat dalam kehidupan mereka di masa mendatang. Sifat jujur murni dari hati balita jangan dikotori agar kejujuran murni tumbuh di dalam kehidupan kelak nanti. 

Secara logika, sifat jujur masih terdapat pada anak bangsa selain balita, hanya mungkin jumlahnya dan tingkatannya yang fluktuatif seiringi naik turunnya kesadaran. Bagi orang yang jujur agaknya mustahil perkataan dan perbuatan tidak relevan. Kejujuran bagi mereka nyata selaras kata dan perbuatan. Ada yang kejujurannya tidak merugikan negara dan orang lain. Bisa saja orang yang tidak jujur, ketika ditanya “tadi kenapa tidak hadir”. Dia akan menjawab mancing atau tadi sedang ada kegiatan lain, padahal tidur atau tidak ingin hadir, dan bukan mancing atau karena ada kegiatan lain. Ini sikap tidak jujur tapi tidak merugikan orang lain. 

Sikap tidak jujur dalam bentuk apa pun tidak harus dipertahankan karena itu membohongi diri sendiri. Kesadaran seperti ini yang sejatinya dimiliki semua anak bangsa sebagai salah satu upaya pencegahan korupsi di negeri ini. Menjauhi sikap membohongi diri sendiri akan mewujudkan kehidupan sinergi dan harmoni di bumi pertiwi. Semua orang senang berteman dengan orang jujur bersemi tak bertepi karena tak ingkar janji. Kejujuran akan menjadi modal tak ternilai harganya di zaman digital sekarang. Maka siapa saja yang mengedepankan kejujuran akan memetik kebaikan kini dan masa mendatang.

Pencegahan korupsi yang dimotivasi hati nurani sebetulnya juga suatu kebaikan,  karena semua orang akan tahu apa arti kejujuran. Tapi karena sifat manusia sering lupa perlu diingatkan. Saling mengingatkan menjadi kewajiban dalam kehidupan. Tidak ada manusia sempurna tanpa kesalahan dalam kehidupan. Semua punya kekurangan, dan kelebihan yang setiap saat atas kesadarannya dievaluasi dan introspeksi terhadap apa yang dilakukan. Berbuat baik dan berkata santun akan bernilai kebaikan. Semua ingin yang terbaik dalam kehidupan. 

Usaha membangkitkan budaya jujur untuk mencegah korupsi dimulai dari diri sendiri sejak dini dalam segala aspek kehidupan. Edukasi diiringi peningkatan amal kebaikan sesuai religi akan mamberi dampak positif pada pribadi dan masyarakat sekitar domisli. Kejujuran atas dasar pemahaman agama secara hakiki akan mendampingi kebaikan tanpa kesan menggurui. Sikap ini diharapkan tumbuh secara murni sehingga usaha mencegah korupsi, dan hak rakyat kembali akan menjadi nyata dikemudian hari. Indonesia diyakini makmur dan maju berkembang tanpa korupsi. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *