RAKYAT MENANTI “KREASI” PRESIDEN JOKOWI (2)

oleh -1 views

Oleh Saidulkarnain Ishak

Terkait regulasi harus diakui banyak yang seolah “mengunci” langkah cepat karena birokrasi terkesan belum mengikuti kemajuan teknologi masa kini. Banyak langkah yang terkekang akibat lika liku regulasi belum sesuai ruh terapi sendiri.

Oleh karena itu, regulasi menjadi “kunci” mempercepat kemajuan. Regulasi yang dijalankan para palaksana di setiap jenjang tidak harus mengekang. Birokrasi sejatinya disederhanakan sesuai dengan perkembangan investasi yang ditargetkan.

Kedua, pembangunan infrastruktur akan dilanjutkan, terutama yang menghubungkan kawasan produksi dengan kawasan distribusi, yang mempermudah akses ke kawasan wisata, yang mendongkrak lapangan kerja baru, yang mengakselerasi nilai tambah perekonomian rakyat.

Akselarasi infrastruktur yang mengarah pada pertumbuhan dan percepatan kemajuan bidang ekonomi mengikuti aliran kemajuan suatu daerah ke pusat pasar sebagai pendukung kemajuan sesuai sumber daya alam di kawasan tersebut.

Begitu juga dengan regulasi lainnya yang perlu direvisi untuk mendukung visi misi pemerintahan Presiden Jokowi-Ma’ruf Amin. Presiden menyatakan regulasi Usaha Mikro Kecil Menengah bisa menjadi titik maju jika regulasi ini direvisi dan diimplementasi dengan inovasi.

Ketiga, segala bentuk kendala regulasi harus kita sederhanakan, harus kita potong, harus kita pangkas. Pemerintah akan mengajak Dewan Perwakilan Rakyat untuk menerbitkan dua undang-undang besar. Pertama, Undang-Undang Cipta Lapangan Kerja.

Undang-Undang Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah sejatinya lebih luwes penerapan karena banyak masyarakat yang bergerak di bidang tersebut. Kemajuan usaha industri kecil dan menengah terhambat karena regulasinya belum bersahabat.

Presiden Jokowi mengatakan, masing-masing Undang-Undang tersebut akan menjadi Omnibus law, yaitu satu Undang-Undang yang sekaligus merevisi beberapa Undang-Undang, dan bahkan puluhan regulasi yang menghambat penciptaan lapangan kerja langsung direvisi sekaligus.

Kerja sinergi

Dalam pidato itu, ada lima “janji” Presiden Jokowi yang diharapkan terwujud dalam lima tahun ke depan. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Jokowi meminta dukungan dari pembantunya bekerja sinergi tanpa mengabaikan inovasi.

BACA JUGA :  TAIWAN BERNIAT IKUT BERPARTISILASI DI ICAO 2019

Lakukan kewajiban dan amanah sesuai perkembangan selaras dengan cita-cita bersama, yakni kemajuan bangsa Indonesia. Singkirkan semua peraturan yang “memasung” langkah Indonesia maju. Kerja bersama untuk tujuan yang sama.

Potensi di negeri ini sangat besar seperti sumber daya alam yang tersedia melimpah di bumi pertiwi. Semua berharga manakala tangan-tangan sumber daya berkualitas menangani potensi ini diolah menjadi nurani pertumbuhan ekonomi.

Jokowi mengatakan, puluhan Undang-Undang yang menghambat pengembangan usaha mikro kecil dan menengah juga akan langsung direvisi. Revisi semua regulasi ini untuk mendukung langkah maju Indonesia di masa mendatang.

Keempat, penyederhanaan birokrasi harus terus kita lakukan besar-besaran. Investasi untuk penciptaan lapangan kerja harus diprioritaskan. Prosedur yang panjang harus dipotong. Birokrasi yang panjang harus kita pangkas.

Eselonisasi harus disederhanakan. Eselon I, eselon II, eselon III, eselon IV, apa tidak kebanyakan? Saya minta untuk disederhanakan menjadi dua level saja, diganti dengan jabatan fungsional yang menghargai keahlian, menghargai kompetensi.

“Saya juga minta kepada para menteri, para pejabat dan birokrat, agar serius menjamin tercapainya tujuan program pembangunan. Bagi yang tidak serius, saya tidak akan memberi ampun. Saya pastikan, pasti saya copot,” katanya.

Presiden mengatakan, kelima adalah transformasi ekonomi. Regulasi berhubungan dengan pertumbuhan ekonomi perlu dilakukan untuk kemajuan negeri ini. Kemajuan bidang ekonomi menjadi salah satu prioritas menuju kemajuan di masa mendatang.

Konsep cepat

Banyak solusi yang dapat dilakukan untuk mewujudkan “mimpi” (mengutip pernyataan Jokowi) besar bangsa Indonesia pada 2045 seperti disebutkan Jokowi seusai mengucapkan sumpah jabatan sebagai Presiden pada 21 Oktober 2019.

Transpormasi ekonomi sejatinya sudah mulai dilakukan sebagai upaya mempercepat tujuan bersama menuju Indonesia maju. Aneka sumber daya alam dapat dilakukan diversifikasi hingga menjadi nilai tambah dan mendukung cita-cita bersama.

BACA JUGA :  TAIWAN MINTA DUKUNGAN PARTISIPASI DI PERTEMUAN INTERPOL

“Kita harus bertransformasi dari ketergantungan pada sumber daya alam menjadi daya saing manufaktur dan jasa modern yang mempunyai nilai tambah tinggi bagi kemakmuran bangsa demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” kata Jokowi.

Berbagi pemikiran yang disampaikan Presiden Jokowi itu akan menjadi nyata manakala para Menteri bekerja sinergi dengan inovasi sesuai perkembangan teknologi masa kini. Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam perlu ditangani hingga menjadi ekonomi mandiri.

Kerja cepat sinergi dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi mustahil diabaikan jika pergerakan langkah tak ingin terhenti. Maju bersama mencari solusi bukan sesuatu yang tabu dalam era digitalisasi saat ini. Kebersamaan akan mewujudkan kemajuan.

Lima prioritas yang secara bersama dilakukan kabinet Indonesia maju lima tahun ke depan sebagai upaya mewujudkan cita-cita bangsa negeri ini. Lima prioritas ini diharapkan dapat mempercepat Indonesia maju seperti disebutkan Presiden Jokowi.

Berbagai tantangan dapat disingkirkan manakala semua pembantu Presiden bekerja cepat menuju tujuan yang dicita-citakan. Dukungan elit politik, dan pengamat yang memberi masukan konstruktif sangat diperlukan mempertajam lima prioritas Presiden Jokowi.

Semua prioritas yang disebutkan Presiden Jokowi itu dinanti realisasinya. Masyarakat menanti kreasi Presiden Jokowi bersama para Menteri. Penantian rakyat, prioritas menjadi realitas yang bermakna, nyata dan tuntas. Rakyat menanti kreasi Jokowi: Indonesia maju (Habis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *