Sen. Feb 17th, 2020

kbirayanews.com

Menyajikan Informasi Bernilai Edukasi

Bajakah Ada 200 Jenis, Gubernur Minta Penelitian Dilanjutkan

Ketua Komisi IX DPR-RI Felly Estelita Runtuwene memberikan arahan dalam pertemuan dengan jajaran Pemprov Kalteng, di Palangka Raya, Kamis (13/2/2020).

PALANGKA RAYA, KBIRAYA – Kalimantan Tengah (Kalteng) sebagai salah satu provinsi dengan wilayah terluas di Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sebagian memiliki fungsi pengobatan. Tumbuhan bajakah yang booming tahun lalu sebagai obat kanker adalah salah satunya.

“Hutan di Kalteng memiliki kekayaan biodiversitas yang tinggi, termasuk di dalamnya terdapat tumbuhan hutan yang berkhasiat sebagai obat,” sebut Gubernur H Sugianto Sabran dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Sekretaris Daerah (Sekda) H Fahrizal Fitri, dalam pertemuan dengan Ketua Komisi IX DPR-RI  Felly Estelita Runtuwene dan tim pendamping di Palangka Raya, Kamis (13/2/2020).

Dijelaskan Gubernur dalam forum membahas pengawasan atas fungsi, penindakan, intelejen, dan penyidikan dalam hal pengawasan obat dan makanan ini, selain kekayaan biodiversitas, etnis asli Suku Dayak yang menghuni wilayah Kalteng secara turun-temurun juga memiliki pengetahuan tradisional dalam hal pengobatan dengan memanfaatkan berbagai jenis tumbuhan hutan yang ada di sekitar mereka.

Pemanfaatan tumbuhan hutan berkhasiat obat (THBO) ini sudah dilakukan masyarakat sejak masa lampau. Salah satu tumbuhan yang secara tradisional digunakan Suku Dayak di Kalteng untuk pengobatan itu adalah tumbuhan bajakah tunggal.

Dilatari hasil penelitian pendahuluan oleh sekelompok siswa-siswi SMA-2 Palangka Raya, tahun 2019, tumbuhan tersebut mendapat perhatian dunia medis karena mengandung zat penyembuh kanker.

“Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait klasifikasi tanaman karena terdapat sekitar 200 jenis/spesies,” sebut  Gubernur.

Dijelaskan pula, saat ini pemerintah daerah telah mendapat dukungan dari balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) untuk melakukan penelitian identifikasi, uji sitotostik in vitro ekstrak dan uji fitokimia beberapa sampel tumbuhan bajakah. Proses penelitian itu telah berjalan hingga saat ini.

BACA JUGA :  FPK Kalteng Wujudkan Kebersamaan Dalam Natal Bersama

Ditambahkan Gubernur, proses penelitian dan pengembangan tumbuhan berkhasiat obat ini masih perlu dukungan banyak pihak, khususnya lembaga-lembaga riset lain sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, khususnya warga Bumi Tambun Bungai.

Pertemuan dengan Felly Estelita Runtuwene itu sendiri merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerja sehari tim Komisi IX DPR-RI  ke Kalteng. Kehadiran Ketua Komisi IX ini didampingi Staf ahli menteri kesehatan Dr Kuwat Sri Hudoyo MS, serta perwakilan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Pusat Dra Rita Endang.

Kedatangan mereka di Palangka Raya disambut Kepala BPTP Kalteng Dr Syamsudin MSc dan jajaran pemerintahan daerah lainnya. Selain melakukan diskusi dengan pejabat pemerintahan daerah Kalteng, tim juga melakukan kunjungan ke kekawasan terpadu pusat pengembangan obat tradisional Kalteng, galeri PLUT KUMKM Kalteng, dan tempat usaha obat tradisional M-4 Bersaudara milik Ny Kameliati. (SAR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *