Sen. Nov 30th, 2020

kbirayanews.com

Menyajikan Informasi Bernilai Edukasi

Standard Medis Taiwan Lebih Canggih Dari China

PALANGKA RAYA, KBIRAYA – Standard peralatan medis yang dimiliki pemerintah Taiwan lebih canggih dari China, termasuk upaya mencegah penyebaran virus corona yang berasal dari negeri tirai bambu tersebut.

Dalam siaran pers Taipei Economic and Trade Office (TETO), Kamis (13/2/2020) pemerintah Taiwan meminta masyarakat dunia tidak menyamakan Taiwan dengan China karena dapat menyebabkan kesuhan besar di kalangan pemerintah dan masyarakat Taiwan.

“‘Prinsip Satu China’ yang tidak masuk akal telah menyebabkan kesusahan besar bagi pemerintah dan rakyat Taiwan, dan bahkan lebih tidak kondusif untuk memerangi epidemi,” tulisnya secara tegas dalam siaran pers tersebut.

Disebutkan bahwa Taiwan yang bukan merupakan bagian dari China, tetapi yang paling dekat dengan  China daratan secara lokasi geografis ikut menanggung beban terjangkit virus, dan sampai saat ini sudah 18 kasus yang dikonfirmasi.

Jadi, Taiwan jangan disamakan dengan China. Tapi karena standar medis Taiwan berkelas dunia, tindakan pencegahan epidemi sangat sukses. Saat ini, tidak ada komunitas wabah infeksi yang terjadi di Taiwan, dan tidak ada kasus yang dikonfirmasi telah meninggal.

Jumlah kasus yang dikonfirmasi juga lebih rendah dari 49 kasus di Hong Kong, 47 kasus di Singapura, 33 kasus di Thailand, 28 kasus di Jepang, dan 28 kasus di Korea Selatan.

Tetapi tahukah anda, di samping mengerahkan seluruh kekuatan yang terbaik untuk pencegahan epidemi, pada saat yang sama pemerintah Taiwan juga harus melawan “Prinsip Satu China” yang tidak masuk akal.

China mengklaim bahwa Taiwan adalah bagian dari China berdasarkan ” Prinsip Satu China” fiksi (tidak nyata). Upaya internasionalnya yang kuat telah membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan Taiwan ke dalam “wilayah epidemi China”.

BACA JUGA :  Filipina Janji Bebaskan Lima WNI yang Disandera Abu Sayyaf

Wabah virus corona baru di Wuhan, China, yang awalnya disembunyikan oleh pemerintah China akhirnya berdampak pada dunia, tulis TETO dalam siaran pers tersebut.

Beberapa negara lain juga bertindak secara tidak masuk akal, mengabaikan pencapaian anti-epidemi prestasi Taiwan, menerapkan “Prinsip Satu China” dan pemahaman yang salah dari WHO, menganggap Taiwan sebagai bagian dari China, menghentikan penerbangan, dan melarang orang Taiwan memasuki negara bersangkutan.

Tindakan ini mengabaikan fakta bahwa Taiwan adalah wilayah epidemi non-China dan menyamakan Taiwan dengan China sangat menyusahkan rakyat dan pemerintah Taiwan. Ini mempengaruhi hak-hak rakyat dan bahkan warga negara lain, termasuk hampir 500.000 orang Indonesia tinggal dan melakukan hubungan Taiwan-Indonesia di Taiwan. (SKY/KBI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *