Jum. Okt 16th, 2020

kbirayanews.com

Menyajikan Informasi Bernilai Edukasi

Kesadaran dan Pencegahan Mandiri

(Oleh : H. Muhammad Nazar)*

Jangan Bergantung Berlebihan Pada Pemerintah Yang Lemah

Hingga saat ini, berdasarkan laporan lembaga resmi kesehatan dunia WHO sudah 202 negara terpapar virus corona, dimulai dari provinsi Wuhan di China.

Di lapangan (daerah) seluruh Indonesia, tidak ada yang tahu berapa jumlah positif terinfeksi sesungguhnya akibat serangan virus corona China— di luar jumlah yang terdata resmi dan dipublikasikan saat ini. Sebab, dengan keterbatasan kemampuan pemerintah tidak mungkin dilakukan pemeriksaan terhadap setiap penduduk selain yang mau melaporkan diri secara sadar, jujur dan kooperatif serta yang ditemukan sudah sakit. Atau setidaknya hingga sekarang belum ada tanda-tanda pemeritah akan mengambil langkah pemeriksaan setiap penduduk untuk mengetahui jumlah terinfeksi virus corona yang akurat.

Dan hal tersebut di atas tidak mudah dan sepertinya tidak mungkin dilakukan karena keterbatasan berbagai hal di sektor kesehatan di Indonesia. Termasuk  pula di dalamnya cara melihat dan merespon, plus kelambatan kebijakan dan susahnya membedakan kepentingan permainan politik dan kesehatan murni bagi masyarakat/ warga negara.

Tidak mengherankan ketika gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan hendak melakukan langkah-langkah pencegahan dan pembatasan potensi penyebaran yang lebih luas langsung mendapat gayangan dari para pemain politik yang keluar dari berbagai sarang, karena selalu dikaitkan dengan isu Pilpres 2024 yang masih jauh sedangkan korban virus China  itu terus berjatuhan setiap saat, setiap jam, setiap menit.

Jumlah terinfeksi sebahagiannya akan diketahui dan sebahagiannya tidak. Artinya jika tidak ada langkah-langkah pencegahan sangat serius dan menyeluruh maka penyebaran virus corona di Indonesia bisa berlangsung lebih lama dari yang diduga.

Kalau waktu penyebarannya berlangsung lama maka apa yang akan terjadi adalah melebihi negeri epi center virus corona, China, melebihi Italia dan Spanyol dalam persentase angka kematian manusia di negeri ini.

Langkah lebih mudah seperti penyemprotan disinfektan saja di seluruh tempat-tempat umum seluruh Indonesia belum mampu dilakukan, nampak belum diprogramkan secara nasional, kecuali beberapa pemerintah daerah dan lembaga tertentu atas inisiatif sendiri mencoba melakukan hal itu di tempat-tempat umum dengan jumlah terbatas seperti di beberapa bandara.

BACA JUGA :  Apa Beda Lockdown dan PSBB?

 

Berbohong Duluan, Menutup-nutupi dan Terlambat Mengakui, Fatal Bagi Warga

Sejauh ini kita bisa mengikuti informasi dan data yang dipublikasikan resmi oleh pemerintah. Pada kenyataannya sebahagian kasus corona di Indonesia meninggal ketika masih ditetapkan dalam masa status ODP dan PDP.

Sehingga persentase jumlah kematian akibat terinfeksi virus corona di Indonesia termasuk tertinggi di dunia, jauh lebih tinggi dari yang dapat disembuhkan dan yang dapat disembuhkan masih sangat rendah berbanding negara apapun yang ikut terpapar virus corona.

Tidak tertutup kemungkinan bahwa sebahagian warga yang telah sakit dan kemudian ada yang meninggal sebelum diperiksa karena menganggap dirinya hanya mengalami sakit biasa dan merasa tak perlu melaporkan diri ke petugas kesehatan, sehingga otomatis jenazahnya diperlakukan secara normal oleh keluarganya/ masyarakat adalah termasuk korban terinfeksi virus corona. Maka kekhawatiran akan terjadi booming (ledakan) jumlah korban virus corona di Indonesia sangatlah wajar.

Berbagai analisis yang masuk akal terutama dari negara-negara lain dan lembaga pemantau kesehatan yang telah mampu berfikir lebih sehat serta tidak menghayal bermunculan bahwa jumlah kasus terinfeksi virus corona di Indonesia jauh lebih dahsyat dari yang telah terdata, dari yang dipublikasikan.

Pandangan ini, jika pemerintah RI ingin mencegah dan memusnahkan virus corona secara serius tak perlu menganggapnya sebagai opini untuk menakut-menakuti, jangan merespon dengan kesalahan dan kebohongan baru untuk menutup-nutupi.

Dengan keterbatasan kemampuan pemerintah berpadu kesadaran yang kurang dari sebahagian warga tentunya semakin mengkhawatirkan banyak orang yang sadar dan paham apa resikonya jika sedang datang suatu wabah yang ganas. Ajaran Islam memberi petunjuk yang jelas dan tegas kepada umatnya bagaimana menghindari suatu wabah penyakit, apapun penyebabnya yang sedang menyebar. Tetapi sebahagian orang salah memahami dan mendefinisikan agama dan imannya sehingga mencoba melawan  upaya dan langkah teknis yang harus dilakukan yang sebenarnya ajaran agama itu sendiri.

BACA JUGA :  Jika Negara Menjadi Virus

Maka kepada setiap warga mari kita tingkatkan kesadaran dan tanggungjawab untuk ikut menghindari, mencegah dan membatasi penyebaran virus corona China, dimulai dari keluarga dan lingkungan masing-masing. Sudah pasti, berupaya sebagai kewajiban manusia dilakukan tanpa melupakan doa. Jangan berlebihan berharap  pada pemerintah yang juga punya keterbatasan kemampuan.

Pentingnya peningkatan kesadaran dan pencegahan mandiri dari masyarakat tidak dapat dikompromikan ketika kita mengingat sikap pemerintah selama dua bulan sejak ketika virus itu mulai menyerang Wuhan China Desember 2019. Hal mana pemerintah RI masih membantah dan sering sesumbar hingga akhir Februari 2020.

Konsekuensinya sebagian masyarakat yang kurang paham dan tidak mau menyadari semakin tidak memulai langkah pencegahan dini, karena pemerintah saja mengatakan tak ada penyebaran virus corona di negara RI. Dengan kasat mata semua masyarakat yang membaca informasi di media massa dan menonton televisi tahu betapa banyaknya pendatang China dan sebaliknya WNI yang dengan sangat bebas keluar masuk negara RI ke China atau sebaliknya.

Begitu pula dari dan ke negara-negara lain yang telah terjangkit virus corona hingga pertengahan Maret 2020. Belum lagi sejumlah TKA illegal asal China yang sering dibantah pemerintah. Namun masyarakat sebagai warga negara dalam urusan-urusan kebijakan publik selalu menunggu arahan pemerintah, tentu dengan segala resiko terburuk jika terlambat dan menutup-nutupi.

Alarm peringatan dini (early warning alarm) yang dibunyikan melalui berbagai media resmi dari negara-negara dan lembaga-lembaga asing yang memahami kesehatan masyarakat serta karena ikut memantau kemungkinan penyebaran virus corona China di Indonesia yang memiliki penduduk terbanyak nomor 4 (empat) di dunia dan mengetahui keterbatasan pemerintah RI dalam urusan  penanganan kesehatan selama ini tak digubris pula oleh pemerintah pusat di Jakarta.

Keilmiahan dan fakta empiris yang ada di dunia ternyata tak mampu merubah persepsi spekulatif dan prinsip hayali para pengambil kebijakan di negara RI ketika dunia mencurigai potensi penyebaran virus corona China ke Indonesia. Para pejabat pemerintah malah tersinggung, sok tahu dan kembali membantah dengan berbagai alasan tak masuk akal.

BACA JUGA :  Solusi Atasi Krisis Pangan Indonesia

Alhamdulillah, semoga bukan karena malu diingatkan atau merasa ditekan oleh negara-negara lain dan lembaga internasional tetapi karena kesadaran sendiri walaupun terlambat, pada awal Maret 2020 pemerintah RI mulai mengakui adanya penyebaran virus corona di Indonesia— ketika orang-orang sudah mulai sakit dan virus itu ikut menyerang pejabat pemerintah. Namun demikian masih ada saja pejabat negara yang mencoba melakukan hal-hal yang seolah virus corona itu tak menjadi masalah sehingga senantiasa berupaya menyangkal atau mementahkan langkah-langkah yang justru lebih tepat yang ingin dilakukan beberapa pimpinan daerah di Indonesia. Fakta penyebaran virus itu di Indonesia ada kemungkinan telah terjadi dari Januari 2020, ketika beberapa negara asing dan WHO hingga peneliti kesehatan di dunia mengingatkan peemerintah Indonesia.

Sekarang, kesadaran dan tanggungjawab setiap warga yang belum terpapar virus corona China sangatlah penting dalam rangka mencegah, membatasi dan menghilangkan penyebarannya. Untuk sementara, memilih mengisolasi diri menjadi jalan terbaik, sambil tetap melakukan langkah-langkah lain yang telah dipublikasikan di berbagai website resmi pemerintah dan lembaga kesehatan, termasuk lembaga kesehatan dunia WHO.

Kejujuran dan kesadaran warga yang pulang dari daerah lain dan luar negeri juga sangat penting untuk melaporkan dan memeriksa diri mereka ke petugas kesehatan sebelum melakukan hal lain apapun. Selamatkan diri dan jangan korbankan keluarga maupun orang lain.

Dengan kesadaran dan usaha mencegah yang serius akan mendatangkan kebaikan  dan Allah berikan perlindungan, menghilangkan segala wabah penyakit sesuai upaya pencegahan dan penyembuhan yang dilakukan manusia. Karena manusia dalam segala lini kehidupannya memang diuji oleh Allah SWT. Diuji dengan penyebab-penyebab alamiah maupun karena kesalahan rekayasa manusia itu sendiri. Amin ya Rab al ‘Alamin.

)* Penulis adalah Wakil Gubernur Aceh Periode 2007-2012); Ketua Satuan Koordinasi Pelaksanaan Penanggulangan Bencana Aceh 2007-2012; Ketua Kwarda Gerakan Pramuka Aceh 2007-2013, Ketua Badan Narkotika Provinsi Aceh 2007-2012, Ketua Umum Partai SIRA & Ketua Dewan Presidium SIRA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *