Sen. Okt 26th, 2020

kbirayanews.com

Menyajikan Informasi Bernilai Edukasi

Jika Negara Menjadi Virus


(Oleh : H. Muhammad Nazar)*

Pada saat WHO telah menetapkan keadaan darurat penyebaran virus corona secara global pada akhir Januari 2020, pemerintah pusat Republik Indonesia hingga 1 Maret masih saja abai, sesumbar, membantah dan tersinggung ketika diingatkan oleh beberapa pemimpin negara asing serta berbagai pihak ahli, peneliti dan pemantau dari luar negeri.

Cara mengakui pemerintah terhadap penyebaran virus corona di Indonesia penuh liku, menjadi pengakuan darurat dan suatu hal yang luar biasa. Menghadpai keadaan darurat yang sesungguhnya, yaitu serangan virus corona yang sedang akan nampak di depan mata serta kenyataannya tidak akan dapat ditutupi dalam waktu yang lama, justru tidak dipersiapkan.

Kebijakan dan tindakan pencegahan penuh perdebatan, pertentangan, sering tendensius dan tidak tepat karena dari awal telah berbohong, menutup-nutupi dan seperti menyimpan sesuatu rahasia yang tak boleh diketahui publik— menjadi tontonan warga Indonesia dan tentu warga dunia yang melihat Indonesia. Jumlah data kasus corona mulai dari yang berstatus orang dalam pemantauan, positif terinfeksi, pasien dalam perawatan, korban meninggal, terinfeksi yang sembuh dan seterusnya yang dipublikasikan resmi oleh pemerintah tak dapat dijadikan pegangan.

Sekali lagi, pengakuan menjadi urusan darurat dan hal luar biasa— sedarurat dan seluar biasa pandemi virus corona. WHO yang rajin memberi warning kepada pemerintah RI sejak awal kisah penyebaran virus corona asal Wuhan Cina itu, juga bisa tertipu jika menggunakan laporan data dari pemerintah Indonesia. Kecuali, jika secara diam-diam pihak pemerintah RI menghubungi WHO secara tertutup untuk menyampaikan data yang sesungguhnya yang tidak perlu dipublikasi dan data yang harus dipublikasi. Tetapi, hal itu tidak akan mungkin terjadi karena menyangkut kesehatan dan keselamatan warga dunia yang wajib dipantau WHO, sekaligus diwajibkan kepada seluruh negara di dunia.

BACA JUGA :  Apa Beda Lockdown dan PSBB?

WHO dan seluruh negara di dunia mengumumkan informasi virus corona di negara masing-masing secara terbuka, apa adanya dan apa yang ditemukan, kecuali Cina dan Indonesia yang dianalisis serta dicurigai banyak pihak menyembunyikan data yang sesungguhnya. Suatu kebijakan dan tindakan yang sangat berbahaya, semakin memperluas penyebaran dan ledakan korban virus corona jika hal itu terjadi.

 

Menutupi Informasi Dapat Ciptakan Ledakan Kepanikan Tiba-tiba

 

Banyak orang dan daerah di Indonesia merasa was-was, bahkan semakin panik ketika pemerintah menutup-nutupi informasi yang sesungguhnya nyata terjadi di lapangan. Selain dapat menonaktifkan kesadaran masyarakat, tindakan seperti itu juga semakin melahirkan kesalahan kebijakan dan tindakan berikutnya. Bahkan hal itu menjadikan warga lebih panik ketika mengetahui informasi yang sesungguhnya secara tiba-tiba, bukannya dispekulasi sebagai sesuatu yang menghilangkan kepanikan. Kecuali orang-orang yang telah menganalisis terlebih dahulu tentang adanya kebohongan dan ketertutupan data yang sengaja dilakukan pemerintah, maka tidak akan merasa heran lagi.

Setelah dianalisis dan dikritik banyak pihak di dalam dan luar negeri, satu persatu pengakuan timbul dari pemerintah. Kemarin, Selasa, 14 April 2020, pemerintah akhirnya tidak tahan lagi, terpaksa mengakui dan mengumumkan data yang sebenarnya tentang kasus virus corona (covid19) di Indonesia yang ternyata jauh lebih tinggi jumlahnya dibandingkan yang diumumkan selama ini.

Setiap negara semestinya memiliki kebijakan dan tindakan  sangat cepat, serius, jujur tanpa berbohong dan tidak menutupi informasi untuk mencegah penyebaran meluas virus corona, berupaya menyelamatkan nyawa dan melindungi kesehatan warganya.

Apabila kebijakan dan tindakan pemerintah salah terus menerus, berbohong dan menutupi kenyataan yang sebenarnya, tidak memilki tanggungjawab yang memadai— justru dapat menjadi virus yang lebih ganas bagi seluruh warga serta kemanusiaan.

BACA JUGA :  Daftar Pilkada, Ben-Ujang: Jangan Ragukan Kami!

Dan akhirnya, jika pemerintah RI tidak sanggup menangani pencegahan cepat dan masif karena alasan keterbatasan dana negara maka sampaikanlah apa adanya kepada rakyat. Jangan merasa kuat karena dapat melemahkan, jangan merasa kaya karena akan berdampak memiskinkan. Negara juga harus menjadi obat bagi rakyat, bukan sebaliknya menjadi seperti virus yang memusnahkan.

Salam perjuangan & doa keselamatan

 

)* Penulis adalah Ketua Umum Partai SIRA, Wakil Gubernur Aceh Periode 2007-2012)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *