Rab. Jun 3rd, 2020

kbirayanews.com

Menyajikan Informasi Bernilai Edukasi

Covid-19 Ancam Kesehatan Ekonomi Dunia

ILUSTRASI : NETS

PALANGKA RAYA, KBIRAYA – Ancaman penyakit menular yang terhadap kesehatan global bidang ekonomi, perdagangan, dan pariwisata belum berhenti, dan semakin cepat menyebar ke seluruh dunia karena transportasi udara internasional. Pneumonia yang tidak dikenal dari Wuhan, China akhir 2019, kini menyebar ke seluruh dunia termasuk Taiwan.

“Setelah mengalami pengalaman tragis SARS, Taiwan telah secara aktif merespons ancaman berbagai penyakit menular yang muncul selama 17 tahun terakhir ini, dan tidak pernah mengabaikannya,” demikian siaran pers yang diterima kbiraya dari Tapei Economic Trade Office (TETO), Rabu (22/4/2020).

Ketika dipastikan bahwa pneumonia yang tidak dikenal terjadi di Wuhan, China pada 31 Desember 2019, Taiwan segera mengambil langkah karantina check-in penerbangan langsung Wuhan, dan melakukan tindakan untuk mencegah risiko penularan antarmanusia.

Lalu, pada 2 Januari 2020 mendirikan Tim Penanggulangan Wabah Pneumonia  Parah, dan tgl 20 Januari membangun Pusat Komando Epidemi Nasional untuk secara efektif mengintegrasikan sumber daya pencegahan epidemi lintas-kementerian.

Meskipun Taiwan berdekatan dengan China secara geografis, jumlah yang terkonfirmasi per juta populasi berada di peringkat 123 dunia, menunjukkan bahwa pekerjaan pencegahan epidemi Taiwan telah mencapai hasil yang luar biasa. Taiwan secara tegas mengakui bahwa penyakit menular tidak mengenal batas.

 

Menanggapi gelombang Covid-19,  Taiwan memberlakukan karantina rumah selama 14 hari untuk imigran dari negara-negara yang terdampak wabah, dan membangun sistem karantina elektronik melalui ponsel dari berbagai operator telekomunikasi. Penumpang mengisi formulir melalui ponsel yang terhubung dengan sistem informasi manajemen kepedulian masyarakat dan kelangsungan hidup, sehingga unit pemerintah dapat merawat serta memberikan bantuan hidup dan pertolongan medis.

Taiwan juga mencatat riwayat perjalanan pasien pada kartu IC asuransi kesehatan, agar dokter bisa memberikan perhatian, dan deteksi dini kasus untuk memblokir penyebaran di masyarakat. Bagi warga yang dikarantina di rumah atau terisolasi di rumah, GPS lokasi karantina juga dipergunakan melalui kerja sama dengan operator telekomunikasi untuk penentuan posisi dan pelacakan. Pelanggar akan dihukum atau penempatan paksa  untuk mencegah efek penularan.

BACA JUGA :  Blockhain Zetanet Koordinasikan Transaksi Negara Global

Selain itu, Taiwan juga telah meningkatkan kapasitas pengujian laboratorium, secara bertahap memperluas cakupan pengambilan sampel dan inspeksi, serta secara retrospektif memeriksa subyek berisiko tinggi seperti pasien influenza yang kritis untuk mengidentifikasi kemungkinan kasus untuk perawatan isolasi.

Pada saat yang sama, 50 komunitas dan pusat kesehatan, 167 klinik laboratorium ditunjuk untuk perawatan dan pemeriksaan secara berjenjang. Selain itu juga mengharuskan rumah sakit untuk membuat area khusus perawatan kamar pasien, isolasi berdasarkan prinsip satu orang satu kamar untuk menghindari penularan di rumah sakit.

Taiwan mulai mengontrol ekspor masker medis pada tanggal 24 Januari, dan melakukan kebijakan masker nasional dan memperluas kapasitas produksi masker. Sejak 6 Februari, sistem identitas asli untuk pembelian masker telah diberlakukan, dan dapat dibeli melalui Community Health Pharmacy dan klinik kesehatan. Mulai tgl 12 Maret, dibuka pemesanan online dan pengambilan barang di minimarket terdekat tempat tinggal warga.

Penyakit tidak mengenal batas, ibarat percikan api cukup untuk menyalakan padang rumput. Jika epidemi regional tidak terkontrol dengan baik, akan menyebabkan pandemi global.  Meskipun Taiwan bukan anggota WHO, bukan berarti Taiwan dapat dikecualikan dari kesehatan dan keselamatan global.

Taiwan menjunjung tinggi tanggung jawab warga dunia, mematuhi Peraturan Kesehatan Internasional 2005 (IHR 2005), secara aktif menginformasikan kepada WHO tentang kasus yang terkonfirmasi, dan secara aktif berbagi dan berkomunikasi dengan banyak negara mengenai COVID-19, seperti kasus yang terkonfirmasi, riwayat perjalanan kontak fisik, tindakan kontrol perbatasan dan informasi lainnya, dan mengunggah rangkaian gen virus ke “Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID)” agar bisa ditelusuri oleh banyak negara.

Pemerintah dan masyarakat Taiwan membutuhkan WHO, dan sebaliknya WHO juga membutuhkan Taiwan. WHO seharusnya tidak menolak siapa pun. Ini adalah misi WHO. Namun saat ini, karena intervensi politik WHO mengesampingkan Taiwan. Hal ini adalah tindakan yang tidak bijaksana.

BACA JUGA :  Zetanet Luncurkan Penawaran Digital ICO di Singapura

Taiwan bisa berbagi dengan dunia, baik dari pengalaman kesehatan masyarakat, sistem medis, sistem perawatan kesehatan, deteksi cepat tentang pencegahan epidemi, vaksin, kemampuan produksi obat terkait, bahkan kemampuan analisis virus. Taiwan berharap setelah cobaan dari epidemi ini, WHO dapat menyadari bahwa epidemi tidak memiliki batas dan tidak ada satu tempat dimanapun yang terabaikan.

Taiwan berseru kepada WHO dan semua lapisan masyarakat untuk peduli terhadap kontribusi jangka panjang Taiwan terhadap kesehatan global dalam pencegahan epidemi, serta kontribusi dalam hak asasi manusia atas kesehatan, dan dengan tegas mendukung penggabungan Taiwan ke dalam WHO.

Penggabungan itu dimaksudkan untuk memungkinkan Taiwan untuk berpartisipasi penuh dalam pertemuan, mekanisme dan kegiatan WHO, dan bersama-sama mengimplementasikan Piagam WHO tentang “Kesehatan adalah Hak Asasi Manusia” dan visi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB 2030 yaitu “no one should be left behind“. (SKY)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *