Sab. Des 5th, 2020

kbirayanews.com

Menyajikan Informasi Bernilai Edukasi

Solusi Atasi Krisis Pangan Indonesia

(Oleh: Saidulkarnain Ishak)*

Soal cadangan kebutuhan pokok masyarakat tidak berhenti diusahakan karena itu merupakan hajat hidup manusia segela usia. Usaha bidang pertanian padi, dan aneka kebutuhan lainnya harus selalu bergerak dan digerakkan agar kebutuhan pangan tercukupi. Tidak ada jeda dalam hal mengolah lahan pertanian di tengah masyarakat tani negeri ini sejatinya tidak mengenal jeda dan petani selalu siaga mengolah sawah ladangnya setiap musim.

Ini bisa jadi karena secara tidak sulit bagi petani mengolah lahan sawahnya. Namun, dalam dua puluh terakhir terlihat tidak banyak masyarakat tani yang mengurus lahan pertaniannya. Entah karena apa, belum ditemukan jawabannya. Pascareformasi terlihat petani mulai mengabaikan atau membiarkan sawah ladangnya ditumbuhi rumput. Mereka terkesan sudah semua turun ke kota memenuhi pasar. Sedikit petani yang kukuh mempertahan profesinya dibandingkan sebelum reformasi. Ya bisa jadi karena kebijakan pemerintah yang tidal fokus.

Mencermati fenomena ini, agaknya perlu ada kebijakan pemerintah pusat soal bagaimana upaya menghadapi krisis pangan. Lahan subur dan dapat bersahabat dengan berbagai tanaman tersedia luas di negeri ini. Jika kebijakan pemerintah pusat fokus sektor ini tentu soal pangan tidak sulit dicapai. Lahan “tidur” terhampar di semua wilayah di Indonesia yang sekarang tidak produktif selama kurang-lebih 20 tahun. Bisa dibayangkan jika sektor pertanian rutin produksi Indonesia tidak akan mengimpor kebutuhan anak bangsa negeri ini.

Bisa saja itu terjadi karena lahan yang tersebar luas di seluruh provinsi, belum maksimal dan menghasilkan pangan maksimal jika dirarap fokus dan serius. Tapi karena dukungan belum maksimal dari pemerintah seperti infrastruktur dan belum fokus di bidang pertanian meski negeri ini disebut negara agraris. Manakala potensi lahan yang terdapat di semua provinsi dimanfaatkan multiguna dapat diprediksi hasil gabah setiap musim panen meningkat setiap tahun.

Jika saja masing-masing provinsi memanfaatkan lahan 1000-2000 hektaer untuk menanam padi, maka diprediksi dengan hasil panen 10-15 ton per hektare bisa mencapai 20 juta ton gabah kering giling. Hasil ini dihitung 10 ton perhektare, jika 15 ton perhektare maka menjadi 30 juta ton sekali panen. Namun semua ini belum fokus, dan masih wacana yang sejatinya dapat diwukudkan secara nyata di masa mendatang. Segera, ya harapan masyarakat segera sehingga bangsa ini bisa berkata: kami negara pengekspor, bukan impor.

BACA JUGA :  Jika Negara Menjadi Virus

Cukup signidikan hasil jika pemerintah pusat memberi motifasi kepada seleuruh provinsi yang punya potensi lahan di daerahnya. Sejatinya ada pemikiran serius dari kementerian pertanian menyangkut hajat orang banyak, tidak mengandalkan inpor. Harus ada inisiatif bagaimana mengangkat derajat petani hingga menjadi negara expor karena memang potensi lahan mendukung. Bisa saja penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan jika perlu Tentara Nasional Indonesia (TNI) ikutserta dalam program ini sebagai motivator semangat dan disiplin.

SOLUSI

Serasi dan saling mendukung dalam mewujudkan program sektor pertanian sejatinga sudah teruji dalam berbagai kegiatan. Kini tinggal lagi bagamana kebijakan pemerintah pusat dalam merealisasinya sehingga solusi mengahadapi krisis pangan dapat diatasi secara bersama di masa mendatang. Semua bergerak maju mendukung krisis pangan. Perlu keseriusan manangi bidang ini karena merupakan hajat orang banyak. Semua petani menanti kebijakan pemerintah pusat bidang pertanian.

Perlu adanya solusi dan upaya mengangkat derajat kaum tani negeri ini. Masyarakat tani tentu berharap ada dukungan dan motivasi bidang yang digelutinya, kalau bisa dibantu bibit, teknologi dan lain sebagainya mereka akan menambah semangatnya. Kebijakan bidang pertanian perlu dilakukan sehingga semua pemerintah provinsi dan kabupaten kota di seluruh Indonesia ikut memakmurkan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang mayoritas petani di negeri ini. Lakukan yang terbaik untuk kemajuan bangsa dan negara di masa mendatang.

Jika fokus dan konsentrasi diyakini bisa membawa berkah rejeki petani dan kemakmuran bagi negara, bisa expor beras. Jadi, kini berpikir jauh ke depan, Indonesia akan menjasi negara pengexpor apabila bidang pertanian dilakukan serius dan konsentrasi. Semua tergantung kebijakan pemerintah pusat yang diikuti pemerintah provinsi hingga kabupaten kota di seluruh Indonesia.

BACA JUGA :  Apa Beda Lockdown dan PSBB?

Sebagai negara agraris, agaknya mustahil impor garam karena laut luas terbentang di wilayah nusanta. Jagung, kedelai, dan produksi pertanian lain tumbuh subur dengan hasil menjanjikan dapat ditanami masyarakat tani negeri ini manakala ada kebijakan bijaksana dari pemerintah pusat. Sudah 20 tahun lebih lahan produksi terabaikan karena tidak garap pemiliknya disebabkan pemerintah lebih mengandalkan impor, padahal potensi dalam negeri tidak kurang manakala digarap secara serius dan fokus.

Kini hanya sayur mayur yang relatif dilakukan petani dalam mengais rejeki dan bertahan hidup. Mereka terkesan mangabaikan produk pertanian lainnya seperti padi, jagung, kedelai, kacang tanah, dan lain sebagainya. Agak lucu rasanya jika negara dikelilingi lautan dan luas lahan signifikan tapi banyak kebutuhan diimpor. Yakinilah bahwa fokus bidang pertanian diyakini kesejahteraan hidup nyaman.

Merujuk data tentang luas lahan pertanian 2019 tercatat 7.463.948 hektare akan menghasilkan sekitar satu juta ton gabah setiap panen. Data dati Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 54.60 ton musim panen 2019. Berapa pun produksi gabah setiap kali panen bukan sesuatu yang harus diabakkan karena hasil itu sangat tergantung pada verietas yang ditanam. Jika benih yang ditanam bagus dan berkualitas dengan dukungan pupuk dan pemiliharaan bagus tentu hasilnya akan berlimpah.

FOKUS SERIUS

Persoalan kemudian adalah serius kah pemerintah memotivasi masyarakat di sektor pertanian secara kontnyu ke depan? Tidak ada bisa menjawab kecuali pemegang kuasa saat ini yang bisa memberi jawaban melalu tindakan nyata. Begitu pun, sebagai warga negara tidak keliru apabila memberi saran masukan untuk kemajuan negeri ini, sehingga sektor pertankan tidak “tertidur” kapan dan di mana pun.

Masalah kebutuhan pangan di kalangan masyarakat tidak berdiri sendiri, tapi melibatkan semua warga negara, terutama pejabat yang berwenang di bidang ink. Inisiat dan inovasi perlu segera dilakukan sebagai upaya mengatasi krisis pangan di tengah pandemi yang sedang ditangani pemerintah saat ini. Persiapan cadangan pangan yang terukur sejatinya sudah dimulai dengan luas lahan 600 ribu hektare di Kalimantan Tengah (Kalteng). Ini langkah positif yang dilakukan lemerintah untuk mengantisipasi krisis pangan.

BACA JUGA :  Satukan Langkah Cegah Corona, Lindungi Dulu Rakyat!

Dalam skala nasional juga perlu dilakukan melalui kebijakan pemerintah pusat. Kebijakan itu bisa secara khusus yang ditujukan pemerintah provinsi kabupaten kota khususnya bidang pertanian sehingga dalam setahun akan terlihat hasilnya. Harus segera dimulai, jangan tunggu masa berlalu. Semakin akan semakin baik karena persoalan pangan menjadi kebutuhan semua manusia.

Jika serentak dilakukan program serupa di seluruh provinsi indonesia diyakini Indonesia akan menjadi “Raja” di sektor pertanian. Tidak sulit rasanya semua bergerap menggarap bidang ini. Tidak mustahil menggerkan anak bangsa untuk program mulia ini. Langkah awal pemutakhiran lahan di setiap provinsi, kemudian varietas benih yang cocok ditanam di setiap provinsi, dan selanjutkan baru mulai mengolah lahan untuk menanam padi. Enam bulan kemudian sudah bisa dilihat hasil panennya.

Bahagia rasanya hati petani melihat padi menguning yang ditiup angin sepoi-sepoi. Betapa tidak bahagia, petani yang sejak pembibitan, dan mengolah sawah hingga pedi menguning yang selalu diincar burung pipit hilang rasa lelahnya. Petani yang siaga melintas pematang sawahnya setiap hari, kini telah melihat sudah mendekati masa panen. Kebahagiaan terlihat di wajah petani ketika menyaksikan jerih payahnya membuahkan hasilnya. Padi di sawah menguning, hati mereka sekeluarga bersyukur kepada pemberi nilai padanya.

Semua ini bisa terjadi jika kebijakan pemerintah benar-benar ingin mewujudkannya. Kebijakan sektor pertanian yang ditujukan untuk semua provinsi, dan kabupaten kota dalam rangka mengatasi krisis pengan Indonesia sebagai solusi mengatasi krisis pangan di Indonesia. Ini barangkali yang sejatinya segera dimulai sehingga kebutuhan pangan di negeri ini terpenuhi tanpa hambatan. Mulai sekarang dan petik hasilnya kemudian.

)* Penulis adalah wartawan Kantor Berita Indonesia Raya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *